tukarkatanews.com – Pangkajene,Di Kabupaten Pangkajene dan kepulauan, sebuah status WhatsApp yang terlanjur beredar pada Jumat malam mengubah percakapan santai warga menjadi rangkaian tanya.
Tangkapan layar itu memuat percakapan yang diduga berasal dari nomor milik anggota DPRD Pangkep, H. Ikbal Chaeruddin, dan berisi pembahasan angka 10 hingga 20 persen terkait pekerjaan swakelola.Beberapa nama turut disebut, termasuk “Pablo” dan “Emmang”, serta istilah yang merujuk pada aparat penegak hukum.Isinya segera memicu spekulasi.
Namun saat ditemui di sebuah kafe di Pangkep, Selasa (25/11/2025), Ikbal tampil dengan versi klarifikasi yang justru menambah daftar pertanyaan.
“Masalah 10 persen itu hanya candaan,” ujarnya. Tak lama kemudian pernyataannya berubah:
percakapan itu, katanya, merupakan pesan titipan dari seseorang bernama Emmang untuk disampaikan kepada Pablo. Ia juga menyebut ponselnya kerap dipinjam orang tersebut.
Perubahan versi tak berhenti di situ. Ikbal mengatakan bahwa status yang viral itu muncul karena pesan “tertindis menjadi story” sebuah penjelasan yang menimbulkan tanda tanya karena aplikasi WhatsApp tidak mengunggah status tanpa tindakan manual dari penggunanya.
Di sisi lain, ia menegaskan tidak mengetahui apa pun tentang pembagian fee. Namun pernyataannya memuat ironi: ia mengaku pernah mengingatkan seseorang agar “jangan selalu meminta uang sebelum pekerjaan swakelola selesai”.
Pesan yang ia buat sendiri, namun disebut tidak berasal dari dirinya.Penyebutan institusi kepolisian dan kejaksaan dalam percakapan ia jelaskan sebagai “candaan menakut-nakuti”, meski konteks dalam screenshot yang beredar tidak menunjukkan nada bercanda.
Sosok Emmang yang beberapa kali menjadi dasar penjelasannya juga masih menyisakan ruang kosong. Ikbal tidak memaparkan peran, kepentingan, atau hubungannya dengan pekerjaan yang disebut dalam tangkapan layar.
Rangkaian klarifikasi yang berubah-ubah inilah yang kemudian membuat publik bertanya:Jika percakapan itu candaan, mengapa angkanya spesifik?Jika itu titipan pesan, mengapa dikirim lewat akun pribadi?Jika tidak mengetahui proyek yang dimaksud, mengapa mengingatkan soal permintaan uang?
Dan yang paling banyak dipertanyakan: bagaimana pesan pribadi bisa tiba-tiba “menjadi status”?
Hingga kini, belum ada penjelasan dari lembaga resmi terkait viralnya percakapan tersebut.
Sementara itu, masyarakat Pangkep masih menunggu klarifikasi yang lebih konsisten, terutama karena percakapan yang beredar menyangkut pekerjaan publik dan penggunaan anggaran negara,isu yang selalu menjadi perhatian warga.








